Posisikan Rasa Malu pada Tempatnya


Malu, sebetulnya anugerah Allah SWT yang patut disyukuri, tapi kadang orang salah penempatan. Ada orang malu kalo diejek, akhirnya minder. Ada juga karena merasa tak punya, malu berteman dengan orang-orang berada. Ada juga yang malu kalo diminta guru ke depan kelas, katanya sih takut gak bisa. Malu tampil di muka umum, angker. Banyak juga yang malu karena kurang percaya diri, menganggap rendah diri sendiri, atau karena kekurangan fisik (cacat). Gak sedikit juga orang berbuat salah tapi tidak tahu malu. Itulah rasa malu yang tidak ditempatkan pada tempatnya.

Dunia terbalik juga dialami para jombloan dan jomblowati, mereka malu karena gak punya pacar, dengan anggapan gak laku-laku, padahal yang seharusnya malu itu yang punya pacar. Para jomblo sebetulnya bisa terhindar dari maksiat zina. Ingat, laki-laki dan perempuan yang memadu kasih di luar nikah itu di larang, berduaan gak boleh, pegangan tangan apalagi, pegangan bibir juga gak boleh, kenapa? Jawabannya belum saatnya. Akibatnya fatal, ujung-ujungnya bisa bisul di perut. Cintailah pasangan setelah kau nikahi, insyaAllah gak rugi. Sebelum menikah jangan sekali kali mengumbar kasih dan sayang, yang ada adalah nafsu hasil bisikan setan, tentu itu dimurkai Allah SWT.

Kembali ke topik, coba bayangkan, sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, berserakan, tidak indah dipandang mata, dapat menimbulkan penyakit, dan yang lainnya. Gak jauh berbeda dengan rasa malu. Oleh karena itu, ayo kita tempatkan rasa malu pada posisinya yang benar, tentunya dalam kaca mata Islam.

Dalam Islam, malu itu sebagian dari iman. Kapan seharusnya kita malu? Baiklah, mari simak baik-baik. Pertama, kita boleh malu kalo banyak berbuat maksiat kepada Allah SWT, gak pernah sholat, puasa ditinggalkan, gak pernah zakat, hafalan Qur’an sedikit, gak pernah sholat malam, gak pernah sholat Dhuha, gak berinfak, bahkan seharusnya malu kalo kita berpakaian dengan memperlihatkan aurat.

Kedua, kita malu tidak berakhlak mulia. Melawan orang tua, tidak hormat terhadap kakak, gak sayang sama adik, tidak beretika dalam berperilaku, sombong, mencuri, kurang bersahabat dengan teman, jutek, sinis, tidak jujur, kurang amanah, suka berkelahi, tidak tahu berterima kasih, tidak suka orang lain senang, kepedean dan masih banyak perbuatan buruk lain yang seharusnya dihindari.

Ketiga, malu karena tidak berprestasi, kenapa harus malu? Karena tidak pernah belajar, tidak pernah mengerjakan tugas guru, tidak pernah aktif bertanya di kelas, itu artinya malas. Kita harus malu karena kita malas. Orang-orang pinter harus rela memutuskan tali persahabatan dengan si malas. Kenapa bisa malu maju ke depan kelas, padahal itu baik untuk membantu memahami konsep materi pelajaran, karena gak belajar, gak ngerjain PR, jadi takut dihukum, ujung-ujunya menghindari guru dan yang ada muncul rasa malu karena gak bisa ngikutin pelajaran.

So, jangan salah menempatkan rasa malu, para pelajar harus malu kalo tidak punya prestasi, tidak belajar dengan baik dan bersungguh-sungguh, atau tidak berakhlak terpuji, jangan malu kalo diminta guru ke depan kelas, jangan malu kalo diminta jadi petugas upacara, jangan malu jadi pengisi acara, itu semua harus kita sadari merupakan ajang proses pembelajaran supaya kita bisa, dan akhirnya tidak dipandang sebelah mata. Orang-orang yang punya cacat fisik, jangan malu dengan kekurangannya, sesungguhnya itu kelebihan yang diberikan Allah SWT asal kita pandai menerima dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.  

Para jombo tidak perlu malu karena tidak punya pasangan, sesunggunya anda sedang menjaga kesucian. Malulah kepada Allah SWT karena tidak bisa menjaga amanah-Nya, tidak bisa menjaga pandangan mata, tangannya, kakinya, hatinya bahkan harusnya malu tidak bisa menjaga kemaluannya.

Ingatlah, Allah SWT tidak memandang hambanya dari bentuk dan rupa, tidak pula dari harta, tidak pula dari pangkat dan jabatan, tapi Dia melihat hambanya dari tingkat ketakwaanya, akhlaknya dan banyaknya ilmu yang dipelajari. Walhasil, dengan pandainya kita menempatkan rasa malu, mudah-mudahan mendapatkan keridhoan-Nya. Amin. Wassalam

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Posisikan Rasa Malu pada Tempatnya"

Posting Komentar